sekolahpontianak.com

Loading

cerpen singkat tentang sekolah

cerpen singkat tentang sekolah

Cerpen Singkat Tentang Sekolah: Ruang Kelas, Impian, dan Jejak Sepatu

Pagi Buta di Balik Jendela Kelas

Cahaya mentari perlahan merayap masuk, menembus celah-celah jendela kelas yang berdebu. Aroma kapur tulis dan buku-buku tua menguar, menyambut kedatangan Rina. Ia selalu datang paling awal. Bukan karena rajin, tapi karena jarak rumahnya yang jauh. Jam dinding di atas papan tulis menunjukkan pukul 06.00. Rina menghela napas, meletakkan tas lusuhnya di bangku paling depan. Bangku itu sudah menjadi saksi bisu impian dan kegelisahannya.

Di luar, suara burung gereja mulai riuh. Rina membuka buku catatan matematikanya yang penuh coretan. Angka-angka itu seperti labirin yang tak berujung. Ia bermimpi menjadi seorang arsitek, merancang bangunan-bangunan megah. Tapi, matematika seolah menjadi tembok penghalang.

Tiba-tiba, pintu kelas berderit. Andi, teman sebangkunya, muncul dengan senyum lebar. “Semangat pagi, Rina!” sapanya sambil melempar tasnya ke bangku. Andi selalu ceria, membawa aura positif ke dalam kelas.

“Pagi, Andi,” jawab Rina lesu.

“Kenapa murung begitu? Matematika lagi?” tebak Andi tepat sasaran.

Rina mengangguk. “Aku benar-benar kesulitan memahaminya. Bagaimana aku bisa jadi arsitek kalau begini?”

Andi tertawa kecil. “Jangan menyerah, Rina. Kita belajar bersama. Aku juga tidak terlalu pintar, tapi kita bisa saling membantu.”

Lorong Sekolah yang Ramai

Suara langkah kaki dan obrolan siswa mulai memenuhi lorong sekolah. Aroma nasi goreng dari kantin menggoda perut yang keroncongan. Rina dan Andi berjalan beriringan menuju kelas. Mereka melewati papan pengumuman yang penuh dengan poster kegiatan sekolah.

Di depan papan pengumuman, mereka melihat Budi, ketua OSIS yang sedang berdebat dengan beberapa siswa. Budi sedang mengumumkan lomba membuat mural untuk mempercantik tembok sekolah.

“Ayo, ikut lomba mural!” ajak Budi dengan semangat. “Tema kita adalah ‘Indonesia di Mataku’.”

Rina dan Andi saling bertukar pandang. Rina memiliki bakat menggambar yang luar biasa. Ia sering menggambar sketsa bangunan-bangunan impiannya di buku catatannya.

“Sepertinya ide bagus, Andi,” kata Rina.

“Iya, Rina. Ini kesempatan bagus untuk menunjukkan bakatmu,” jawab Andi mendukung.

Ruang Guru yang Sarat Pesan

Setelah bel berbunyi, Rina dan Andi menuju ruang guru untuk menemui Bu Sinta, guru seni mereka. Bu Sinta dikenal sebagai guru yang sabar dan penuh inspirasi.

“Selamat pagi, Bu,” sapa Rina dan Andi serentak.

“Pagi, anak-anak. Ada apa?” jawab Bu Sinta sambil tersenyum ramah.

“Kami ingin bertanya tentang lomba mural, Bu,” kata Rina. “Kami tertarik untuk ikut.”

Bu Sinta tampak senang. “Bagus sekali! Ibu sangat mendukung kalian. Tema ‘Indonesia di Mataku’ sangat menarik. Kalian bisa mengeksplorasi berbagai ide dan perspektif.”

Bu Sinta kemudian memberikan beberapa saran dan tips tentang bagaimana membuat mural yang menarik dan bermakna. Ia menekankan pentingnya kerja sama tim dan ekspresi diri.

“Jangan takut untuk berkreasi dan menunjukkan identitas kalian sebagai generasi muda Indonesia,” pesan Bu Sinta.

Lapangan Sekolah Antusias

Siang itu, Rina dan Andi mulai merancang mural mereka di lapang sekolah. Mereka dibantu oleh beberapa teman sekelas. Mereka memilih tembok yang paling strategis, dekat dengan gerbang sekolah, agar semua orang bisa melihatnya.

Rina menggambar sketsa awal mural dengan kapur. Ia menggambarkan berbagai simbol Indonesia, seperti Garuda Pancasila, bendera merah putih, dan peta Indonesia. Ia juga menambahkan gambar anak-anak sekolah yang sedang belajar dan bermain bersama.

Andi bertugas mencari bahan-bahan yang dibutuhkan, seperti cat dan kuas. Ia juga membantu Rina mewarnai mural.

Meskipun cuaca panas, mereka tetap semangat bekerja. Mereka saling membantu dan menyemangati. Mereka ingin membuat mural yang indah dan bermakna, yang bisa menginspirasi semua orang.

Tembok Sekolah Bercerita

Setelah beberapa hari bekerja keras, mural mereka akhirnya selesai. Mural itu terlihat sangat indah dan berwarna-warni. Semua orang yang melihatnya terpesona.

Mural itu menggambarkan Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya dan potensi. Mural itu juga menggambarkan harapan dan impian generasi muda Indonesia.

Budi, ketua OSIS, sangat senang dengan hasil kerja Rina dan Andi. Ia memuji kreativitas dan kerja keras mereka.

“Mural ini benar-benar luar biasa! Kalian telah berhasil menggambarkan Indonesia di mata kalian dengan sangat indah,” kata Budi.

Rina dan Andi merasa bangga dengan hasil kerja mereka. Mereka telah berhasil mengubah tembok sekolah yang awalnya polos menjadi sebuah karya seni yang bercerita.

Jejak Sepatu di Tanah Sekolah

Beberapa tahun kemudian, Rina berhasil mewujudkan impiannya menjadi seorang arsitek. Ia merancang bangunan-bangunan megah di berbagai kota di Indonesia.

Andi menjadi seorang guru. Ia mengajar di sebuah sekolah dasar di desa terpencil. Ia ingin memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anak yang kurang beruntung.

Mereka berdua sering mengenang masa-masa sekolah mereka. Mereka ingat bagaimana mereka saling mendukung dan membantu untuk mencapai impian mereka. Mereka ingat bagaimana mereka belajar dan tumbuh bersama di sekolah.

Jejak sepatu mereka masih tertinggal di tanah sekolah, menjadi saksi bisu perjalanan mereka menuju kesuksesan. Sekolah telah menjadi tempat mereka menemukan jati diri dan meraih impian mereka.

Pelajaran dari Cerpen:

  • Persahabatan: Dukungan dari teman-teman dapat membantu mengatasi kesulitan dan mencapai impian.
  • Kegigihan: Jangan mudah menyerah dalam menghadapi tantangan. Teruslah berusaha dan belajar.
  • Kreativitas: Manfaatkan bakat dan kemampuan untuk berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
  • Inspirasi: Temukan inspirasi dari orang-orang di sekitar dan jadilah inspirasi bagi orang lain.
  • Pendidikan: Pendidikan adalah kunci untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Kata Kunci SEO: Cerpen singkat, cerita pendek, sekolah, pendidikan, persahabatan, impian, inspirasi, mural, siswa, guru, Indonesia.